Mengenal Bogor Sekali Lagi

Oleh: Angelica Agnes

“Parung… Parung…”

Seorang kenek bis membuyarkan lamunanku. Akupun menaiki bis yang masih kosong tersebut. Di Bogor lagi… Di Terminal ini sekali lagi. Melewati tugu Kujang lagi, yang merupakan landmark terkenal dari kota ini. Wow, I really miss this city of mine! Baiklah Bogor, saya siap mengenalmu sekali lagi.

Sudah 5 tahun tak kembali ke kota ini. Banyak yang berubah. Jalan-jalannya, bangunan-bangunannya. Aaahh… Rasanya saya masih merasa tidak ada yang berubah dalam diri saya. Tetapi, saya jadi teringat akan lagu “Everybody’s Changing”-nya Keane. “Everybody’s changing and I dont feel the same…” Pasti lah ada yang berubah dari setiap hal. Bahkan air sungai yang mengalir di Kali Ciliwung yang mengaliri Kebun Raya dan melintasi Jembatan Merahpun tidak pernah sama setiap detiknya. Semua berubah.

Bogor sedang menggeliat. Layaknya remaja yang sedang mengalami pubertas dan mengalami pertumbuhan di sana-sini. Begitulah Bogorku sekarang. Aku melintasi jalan yang biasa aku sebut Jalan Baru. Ternyata, jalan itu benar-benar baru sampai aku tidak menyadari mana jalan yang biasa aku lewati. Tak ada perlintasan rel kereta api, yang ada justru terowongan bawah tanah yang panjang. “Habis gelap terbitlah terang.” Itulah kata yang selalu terngiang di benak saya tiap kali melewati terowongan di manapun. Bagi saya yang baru saja menapaki kaki di kota ini setelah 5 tahun tinggal di kota orang, hal ini lumayan membuat saya terkejut. Pemandangan yang tidak biasa. Kejutan apa lagi selanjutnya?

Saat itu hari hujan. Bau tanah sangat sedap terasa merasuk ke hidung. Bogorku, kota hujan yang tidak mengenal musim. Di tengah-tengah musim keringpun, di kala hujan ingin datang, maka jadilah hujan. Kulihat para pengendara motor berteduh di proyek flyover yang hanya baru terdiri dari besi-besi beton. Belum berfungsi tetapi sudah terasa manfaatnya. Aku tergelak dalam hati. Manusia memang diberi otak yang cerdas untuk memanfaatkan segala sesuatu sebaik-baiknya. Saya tatapi wajah-wajah itu. Apakah makna perjalanan mereka hari ini? Bertemu dengan yang tercinta, mengunjungi sanak keluarga, mencari nafkah atau sedang berpetualang? Semua memiliki tujuannya masing-masing, termasuk diriku.

Kulihat plang di sepanjang jalan tersebut. Oh, Jalan Tol Lingkar Luar Bogor namanya. Sungguh sebuah megaproyek. Bogor akan memiliki jalan layang seperti halnya Jakarta dan Bandung. Benar-benar remaja yang sedang bertumbuh, pikirku. Saat ini sedang awut-awutannya, tetapi saya bisa membayangkan bagaimana ia kelak. Elok dan gemulai. Dari Dramaga hingga Sentul Selatan melingkari kota kesayangan kami dengan anggun. Betapa bisa dibayangkan pertumbuhan ekonomi yang dibawa oleh proyek ini. Belum lagi beres, harga properti di sekitar jalan tol ini sudah mulai merangkak naik. Bogor… Bogor… Remaja yang sedang bertumbuh dan menumbuhkan harapan bagi penghuninya akan kehidupan yang lebih baik.

Kalau boleh jujur, tentunya saya harus jujur. Saya agak tergelitik dengan kata “remaja” yang saya pakai. Bogor bukanlah kota baru. Buitenzorg, para kompeni menamai kota ini. Berumur lebih dari 5 abad, tepatnya 531. Sepanjang ingatan saya selama saya tinggal di sini dari tahun 1993 setelah orang tua saya memboyong saya dari Bandung hingga saya memutuskan pergi untuk kuliah pada tahun 2008, Bogor adalah Bogor. Tak banyak yang berubah. Tetapi setelah kembali lagi, entah mengapa saya merasa kata “remaja” sungguh cocok disandangkan bagi kota kecil ini.

Perjalananku masih panjang hingga ke rumah. Tiba-tiba terlintas dalam benakku ketika aku membaca novel “Aleph” karya Paulo Coelho tentang chinese bamboo. Bahwa tanaman tersebut setelah ditanam selama 5 tahun, yang bertumbuh hanyalah tunas kecil. Tetapi ternyata, dalam 5 tahun yang lama tersebut, tanaman tersebut bertumbuh ke bawah, akar-akarnya membentuk sebuah sistem yang membuatnya tertancap erat ke dalam tanah. Barulah setelah 5 tahun usai, tanaman tersebut akan bertumbuh dalam beberapa bulan mencapai 25 meter. Amazing. Itulah kota Bogor yang aku bayangkan. Kota kecil yang adem ayem dan bersolek sekian tahun, setelah itu boom! Jadilah Bogor sebagai sebuah mega city.

Aku tersadar dari lamunan, dan tak tahu di mana aku berada. Sayapun bertanya pada kenek bis, “Bang, Kayu Manis masih jauh ga?” “Bentar lagi neng. Siap-siap.” Akhirnya, desahku. Akupun berdiri dan bersiap di tepi pintu. Seni naik bis: berdiri sebelum tempat perhentian kalau tidak malah terlewat mengajari aku bahwa kita harus bersiap-siap dalam menghadapi tantangan dalam hidup. Lagi-lagi, aku memikirkan Bogor, yang sedang bersiap-siap untuk menatap masa depannya. Akupun menapaki tanah itu sekali lagi dan memanggil ojek untuk mengantarku pulang ke kampung halamanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s