Sempadan Malioboro: Potret Apresiasi Selebar Lima Kaki

Pemanfaatan Sempadan Timur Jalan Malioboro; Penuh dengan sepeda motor parkir dan menghalangi pejalan kaki.

Pemanfaatan Sempadan
Timur Jalan Malioboro; Penuh dengan sepeda motor parkir dan menghalangi pejalan kaki.

Sempadan Barat Jalan Malioboro yang lapang; nyaman untuk pejalan kaki dan leluasa dipakai aksi apresiasi seni.

Sempadan Barat Jalan Malioboro yang lapang; nyaman
untuk pejalan kaki dan leluasa dipakai aksi apresiasi seni.

Oleh: Raymundus

Malioboro. Warga asli Yogyakarta sampai wisatawan mancanegara pasti mengenal jalan sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer ini. Jalan Malioboro memang populer sebagai landmark alias tetenger kota Yogyakarta sebagai destinasi wisata, khususnya wisata belanja cinderamata. Kepopuleran jalan yang konon penamaannya diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti “karangan bunga” ini mungkin bisa disejajarkan dengan Orchard Road di Singapura atau Champs-Élysées di Paris yang di salah satu ujung jalan berdiri tegak Arc de Triomphe—monumen simbol romantisme kebesaran Napoleon Bonaparte—yang tersohor. Mungkin pula Malioboro setenar Wall Street yang mewakili kedigdayaan kapitalisme di New York itu.

Namun, Jalan Malioboro—terlebih sempadan alias trotoarnya— memiliki potretnya sendiri. Potret yang sebenarnya menampilkan antagonisme di kedua sisi trotoarnya—timur dan barat. Sempadan timur identik dengan kesemrawutan dan cermin sikap apresiasi yang minim terhadap pejalan kaki, sebaliknya sempadan sisi barat kerap dipilih sebagai ruang apresiasi yang maksimum, khususnya sebagai ruang publik ideal bagi penggunanya.

***

Area sempadan itu berwarna hitam kusam di sisi barat-timur jalan. Permukaannya terbuat dari batu kali menjadi ciri khas sempadan di Kota Yogyakarta, termasuk di kawasan Malioboro. Konstruksinya demikian ideal untuk pejalan kaki, apalagi sudah dilengkapi dengan jalur khusus bercorak kuning bagi penyandang disabilitas yang juga tak ingin ketinggalan kesempatan merasakan atmosfer keramaian Malioboro.

Namun, menjelang siang hari kawasan itu dipastikan tak lagi ideal untuk pejalan kaki. Satu demi satu pelancong yang mengendarai sepeda motor memarkirkan kendaraannya di sempadan sisi timur Malioboro. Sejauh mata memandang di area trotoar itu dari utara sampai selatan berderet kuda besi yang saling memunggungi. Artinya ada dua baris parkir sepeda motor di sempadan sisi timur. Menyisakan ruang yang hanya selebar satu setengah meter saja untuk pejalan kaki. Seolah mempersilakan pejalan kaki berebut tempat dengan laju motor yang hendak masuk atau keluar parkiran yang sebenarnya memakan badan sempadan itu.

Seringkali nampak pejalan kaki, khususnya bule backpacker yang memang gemar berjalan kaki, berhenti sejenak “mengalah” dari sepeda motor dengan kecepatan rendah yang melintas di hadapannya. Sesekali gelengan kepala muncul dari gerak tubuh wisatawan itu— bisa jadi sebagai simbol kegeraman bahwa ruang miliknya diserobot oleh kendaraan yang harusnya melaju di jalan aspal, bukan di trotoar.

“I’ve just shocked when a motorcycle is passing through in myway suddenly”, kata Peter Keene, turis asal Kanada yang kebetulan sedang melintasi jalur pejalan kaki hendak pergi ke Pasar Bringharjo dan Museum Kereta Kencana Kraton.

Ketidaknyamanan yang sama dengan pengalaman Peter juga dirasakan oleh Tunik Wijayanti, warga asli Yogyakarta yang sedang menyambangi Mal Malioboro. Katanya “Aku dewe pancenmesakke karo sing do mlaku, ora keduman panggon merganekebak ro pit motor (Saya sendiri merasa kasihan dengan yang berjalan kaki, tidak mendapat tempat karena penuh dengan sepeda motor—terj).”

Supartono, tukang parkir yang sudah lima tahun terakhir bertugas di sempadan Jalan Malioboro berdalih kalau kawasan parkir Malioboro memang ditetapkan oleh pemerintah di atas trotoar. “Mau dimana lagi? Kantong-kantong parkir selain trotoar itu kadohan (terlampau jauh),” katanya seraya menuding papan petunjuk kantong parkir yang masih sejauh satu kilometer itu.

“Kalau pengunjung memang butuh belanja di dekat sini, masak ya harus ke kantong parkir itu lalu jalan kemari, mesti wegahé (pasti malas—terj) to mas,” ungkapnya sembari tertawa seolah pekerjaannya memang tidak merugikan pihak lain.

Seakan mengkonfirmasi anggapan Supartono, Brita Dian Maharani—mahasiswi salah satu kampus swasta di Yogyakarta—mengatakan kalau dirinya selalu parkir di tepi jalan Malioboro alias di atas sempadan timur jalan tiap kali berkunjung karena hanya di situlah satu-satunya yang nampak digunakan sebagai fasilitas parkir. “Memang kesannya jadi tidak menghargai pejalan kaki karena wilayah mereka kami rebut, tapi gimana dong, masak harus parkir jauh di sana,” tandas wanita berkacamata ini.

***

Suasana menjelang malam. Malioboro semakin menampakkan identitasya sebagai primadona. Pengunjung makin ramai. Menyusuri ruas jalan Malioboro di malam hari hingga mencapai setengah bagiannya, kita akan dibuat berpaling. Suara kelompok perkusi menyita perhatian dari sisi barat jalan. Bunyi angklung, djembe, kolintang, tamborin, dan bonggo menyatu dengan sangat ritmis. Melantunkan tembang Suwe ora jamu, Bengawan solo karya maestro Gesang, hingga lagu pop seperti Laskar Pelangi milik Nidji.

Aksi kelompok perkusi dengan nama “Laskar Angklung” ini mengambil lokasi salah satu titik sempadan sisi barat Malioboro sebagai “panggung” mereka. Sempadan sisi barat Malioboro memang lebih lapang karena tidak dipakai untuk parkir tepi jalan umum sehingga pejalan kaki bisa bebas berlalu lalang.

Pejalan kaki lantas menyemut ke arah datangnya suara. Sesekali penonton maju untuk memasukkan lembaran uang atau koin ke kotak kayu bercat biru yang ada di hadapan mereka. Tak ketinggalan kilatan lampu kamera wisatawan silih berganti mengabadikan momen unik ini. Penonton Laskar Angklung mengaku tertarik karena keunikan performa musik perkusi yang secara atraktif dipentaskan di pinggir jalan sehingga menyedot perhatian pejalan kaki di sisi barat Jalan Malioboro.

“Saya senang sekali. Kebetulan saya berjalan menyusuri trotoar sisi barat ini yang lebih luas lalu menjumpai pertunjukkan ini,” ungkap Mita Nareswari, pelancong asal Kota Kembang. Menurutnya area pejalan kaki sisi barat Malioboro memang lebih manusiawi untuk dipakai sebagai berjalan dibanding sisi timur.

“Sisi timur padat. Ga bisa buat lewat. Penuh motor pula. Riweuh euy,” tukas Mita dengan dialek Sunda yang kental. “Tentu saja trotoar sisi barat ini jauh lebih aman dan nyaman,” pungkasnya.

Bila sedang beruntung, kita bisa menjumpai pula pertunjukkan musik kecil-kecilan di sempadan sisi barat Malioboro, namun di depan Istana Agung Yogyakarta. Terakhir kali sekelompok seniman muda menggelar “konser” mini alias mengamen untuk mendukung kesembuhan Sujud”Kendang” Sutrisno di trotoar barat depan Istana Agung. Lagi-lagi diserbu oleh pejalan kaki yang terkesima dengan aksi itu.

Malioboro—lewat potret riil situasi sempadannya—memberikan banyak pembelajaran. Di sisi timur, wajah ke-sembrono-an, ketidaktertiban, keengganan untuk menghargai pejalan kaki disodorkan demikian gamblang. Sedangkan sisi baratnya memberikan teladan tak hanya soal fasilitas pejalan kaki yang memang semestinya lapang begitu, namun dari fasilitasi itu pula apresiasi terhadap pejalan kaki diwujudkan. Dengan begitu, pejalan kaki akan tergugah untuk memberikan apresiasi balik terhadap hal-hal kecil yang mereka temui dan tergerak untuk berkontribusi terhadap lingkungan sekitarnya, salah satu contoh ialah lewat atensi kepada Laskar Angklung dan konser mini demi kesembuhan Sujud “Kendang” Sutrisno. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s